Masa Depan Kuburan dan Kuburan Masa Depan

5/07/2018


“Gak usah sombong punya rumah gedong, nanti kalau mati juga sama-sama dikubur di liang lahad”, mungkin nasehat seperti itu pernah kita dengar dalam omongan bab kesombongan akan harta duniawi. Namun apa benar semua orang pada akhirnya akan kembali pada tempat peristirahatan yang sama? Selain berdirinya piramida adalah bukti ucapan itu tak selamanya benar—karena ternyata menjadi firaun bisa bikin kita punya kuburan megah yang beda dari rakyat jelata dan mungkin kalau mereka masih hidup bisa juga jadi bahan sosombongan—siapa yang bisa menjamin juga kalau kuburan kita sekarang, akan sama dengan kuburan dari para udhek-udhek, gantung siwur, dan cicip moning kita?

Yang jelas, bentuk kuburan sekarang, sebuah liang persegi panjang di tanah tapak ini, sedang mengalami tantangan yang cukup berarti. Apalagi kalau bukan ketersediaan lahan.  Ketersediaan lahan yang semakin terbatas membuat kebutuhan akan tanah kuburan terutama di kota-kota semakin sulit dipenuhi, seperti di Jakarta dan Malang. Maka dari itu, salah satu cara “mengakalinya” adalah dengan memberlakukan sistem tumpangan. Tumpangan adalah sistem penumpukan jenazah di makam yang sudah tidak terawat. Baik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun Pemerintah Kota Malang sudah membolehkan sistem penumpukan jenazah ini melalui Perda masing-masing. Di Kota Malang sendiri beberapa TPU yang dikelola oleh masing-masing kelurahan maupun Pemkot Malang makin hari kian menyempit. Apalagi beberapa warga perumahan banyak yang “nebeng” di TPU sekitar, padahal seharusnya masing-masing perumahan harus menyediakan lahan pemakaman sendiri di kompleksnya. Namun masih banyak pengembang-pengembang yang tidak mengindahkan. Jadi mungkinkah kuburan di masa depan nanti bisa ditumpuk-tumpuk ndusel-nduselan karena lahan terbatas?

Tahun lalu, Centre for Death and Society di University of Bath Inggris mengadakan kontes desain yang menantang para desainer untuk membuat konsep kuburan di masa depan. Juara nomor wahidnya adalah karya berjudul “Sylvan Constellation” garapan desainer dari Columbia University. Konsep utamanya adalah sebuah kuburan dimana penerangan buatan seperti lentera-lentera dan lampu-lampunya dimotori oleh energi biomassa yang berasal dari mayit-mayit di dalam tanah. Menjawab isu hangat tentang sustainability sekaligus puisi cantik tentang “yang mati menerangi yang hidup”. Ntap. Banyak juga konsep-konsep dari kontestan lain, seperti kuburan terapung di tengah laut yang kalau mau melayat harus naik ferry, kuburan di dasar laut yang kalau mau melayat harus scuba diving, atau konsep kuburan gedung tinggi yang sudah direalisasikan di beberapa negara, salah satunya kuburan di gedung 32 lantai di Brazil, Memorial Necropol Ecumenica. Visioner-visioner deh pokoknya.

Diskusi tentang ruang aktivitas atau ruang hidup dan bagaimana proyeksinya di masa depan kelak mungkin sudah tak terbatas dibahas di forum-forum arsitektur atau planologi di seluruh dunia, tapi sebagaimana isu-isu masa depan mempengaruhi yang hidup, ianya juga akan mempengaruhi yang mati, salah satunya tentang ruang kuburan ini.

Yah tapi apapun bentuk kuburan di masa depan kelak, toh kita tidak akan pernah tahu.
Karena kita sudah anteng di kuburan kita.

ENJOY YOUR DAY!

Ditulis oleh Ramy Dhia
Seorang mahasiswa arsitektur yang mencintai dunia desain, teknologi, pop culture, dan penulisan. Ngeblog sejak 2010 dan mulai ngeVlog di Youtube sejak 2014. Hobi nonton TV Series dan merupakan pemain abadi dari game Harvest Moon: Back to Nature.
NB: Bercita-cita ingin menguasai dunia.


You Might Also Like

0 komentar

Harap komentar dengan bahasa yang sopan ya, as your grandma will read it :)

Page Ranking Tool
DMCA.com

I'm in

postimage
Mutsurini Team
Komunitas Online Kab.Tangerang Warung Blogger