Orang Sakti Itu Bernama Tukang Kunci

10/09/2017



Sudah tiga hari kunci motor saya hilang entah kemana. Seperti yang saya duga, lepasnya dia dari serencengan teman-temannya akan berakibat buruk kalau tidak segera dicantolkan kembali. Tapi memang dasar saya procrastinator kelas kakap, nyantolin balik kunci yang lepas dari gantungannya saja ditunda. “Gak ada kuku”, gumam saya.  Akhirnya sekarang bukan cuma kuku, kuncinya pun gak ada.

Bermodal googling dengan kata kunci “ahli kunci Malang”, saya mendapati nomor ahli kunci yang lokasinya paling dekat dari kontrakan. Langsung saja saya bel, Mas Adhi namanya.
“Tahu kan mas alamatnya? Pokoknya nanti abis masuk komplek, masnya ke—“
“iya, mas.. shareloc aja lokasi sampeyan ke WA saya”, potong Mas Adhi Kunci setelah saya memberi alamat lengkap kontrakan. Saya pun membagi lokasi saya ke WA Mas Adhi yang terdapat logo InLoG (Indoensia Locksmith Group) pada avatarnya itu.

Satu episode Rick and Morty kemudian, Mas Adhi datang dengan motornya, kotak perkakas duduk manis di sela-sela kakinya. “Yang ini ya, mas?”, tanya-nya sambil menunjuk motor Vario merah saya dan tanpa ba-bi-bu langsung mulai bekerja. Karena melihat mas Adhi kok ya serius banget nongkrongin motor saya, sayapun melipir ke dalam rumah untuk bikin kopi. Duh, kopinya habis.
“Monggo, mas diminum, maaf kopinya lagi habis ternyata”, kata saya sambil menyodorkan mug kesayangan berbentuk kepala Darth Vader berisi air putih.

“Oh iya mas, ini udah mau selesai kok”, kata Mas Adhi santai.

Loh loh loh loh, udah mau selesai? Perasaan cuma ditinggal ngambil minum sebentar! Memang saya tidak tahu-menahu tentang cara para ahli kunci ini bekerja. Kalau cuma duplikat sih masih masuk akal, tapi untuk menduplikat kunci yang bahkan kuncinya saja hilang, saya tidak habis pikir sama sekali. Bayangan saya motor saya akan dibongkar dulu, diambil bagian silindernya, dipelajari lobang kuncinya, diukur-ukur secara presisi dengan alat ukur macem-macem, setelah itu baru dibuat kuncinya.

Ternyata tidak seperti itu sama sekali. Begitu datang, Mas Adhi langsung membuka kotak perkakasnya yang mirip kotak perkakas yang biasa dibawa sama anak tamiya itu. Sayangnya gak ada dinamo Chukin Predator di dalamnya, yang ada hanya beberapa batang kunci template yang masih polos belum bergigi serta beberapa peralatan yang saya tidak tahu namanya. Lalu bermodal lampu senter dari HP candybar-nya, dia menyenter ke dalam lubang kunci bagasi sambil sesekali memasukan besi kecil yang biasa kita lihat di film-film detektif kalau mau bobol pintu. Kemudian dengan cekatan dia mulai mengukir kunci template tadi dengan kikirnya. Sesekali dicoba, dirasa belum mulus, dikikir lagi, lalu dicoba lagi, dikikir lagi, begitu seterusnya sampai klik.
Yang mencengangkan tentu bukan hanya cara pengerjaannya yang tanpa alat macem-macem, tapi bagaimana ia menyelesaikannya hanya dalam waktu kurang lebih lima menit! Kalau skill untuk bisa bikin kunci ini adalah suatu keharusan bagi para agen BIN, mungkin saja Mas Adhi inilah yang melatih mereka di sela-sela waktunya. Ah, bahkan pada saat itu saya merasa aneh kenapa dia datang ke kontrakan saya tanpa kawalan aparat, karena sepertinya dia tak ada bedanya dengan Wernher von Braun dan kawan-kawan ilmuwan roketnya yang jadi bancakan Amerika dan Uni Soviet pasca Perang Dunia Kedua.

Pekerjaan ahli kunci pun secara resmi saya masukkan ke dalam daftar pekerjaan-pekerjaan yang cara kerjanya mendekati sihir, bergabung bersama pekerjaan recovery data harddisk, dan pabrik indomie.
Begini loh, kunci dan gembok itu kan lambang keamanan yang sudah tertanam jauh dalam benak kita. Pokoknya asal dikunci, asal digembok, beban pikiran kita akan keamanan barang tersebut akan sirna. Nah, melihat ahli kunci seperti Mas Adhi beraksi dan dengan “mudahnya” membuat kunci baru hanya dalam waktu lima menit, membuat gambaran akan rasa aman tadi terusik. Ternyata yang selama ini saya anggap aman, toh dengan skill yang mumpuni, bisa juga dijebol. Apalagi saya lumayan sering menyimak presentasi product knowledge dari pabrikan kunci dan gembok karena mereka sering mensponsori acara di jurusan saya. Saya jadi membayangkan seandainya Mas Adhi hadir di salah satu presentasi itu. Apakah di setiap penjelasan tentang keamanan silinder kunci yang kekinian nan canggih itu, ada Mas Adhi yang sekuat tenaga menahan keinginannya untuk berteriak “ah masa seeeeeh?”

Atau bagaimana kalau bukan hanya tentang kunci? Bagaimana kalau semua yang kita ketahui, yakini, dan telah nyaman dengan itu, tidak lain hanya karena kita belum bertemu sesuatu yang bisa “menjebol”nya?

Ya, sore itu, lembar seratus ribu terakhir di dompet saya tukarkan dengan asupan krisis eksistensial mingguan dan sebatang kunci baru.

ENJOY YOUR DAY!

Ditulis oleh Ramy Dhia
Seorang mahasiswa arsitektur yang mencintai dunia desain, teknologi, pop culture, dan penulisan. Ngeblog sejak 2010 dan mulai ngeVlog di Youtube sejak 2014. Hobi nonton TV Series dan merupakan pemain abadi dari game Harvest Moon: Back to Nature.
NB: Bercita-cita ingin menguasai dunia.


You Might Also Like

7 komentar

  1. Kayanya 2-3 postingan terakhir udah pake saya ya, nggak pake gue lagi. Gaya bahasanya juga udah makin dewasa dan mengingatkan pada beberapa narablog asal timur Jawa, efek tinggal di Malang mungkin ya.

    Salah satu penyesalan gua adalah nggak mampu masuk kampus dengan kadar intelektualitas tinggi yang bisa meningkatkan cara kita berfikir dan melihat sebuah problematika. Gua koq ngerasa manusia bodoh bin stagnan ya kalo ngeliat gimana perkembangan cara nulis lo yang dulu cuma cerita soal kehujanan pas mau ke warnet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya belum niat mau ganti jadi saya sih. Postingan yang tokopedia itu emang karena postingan lomba, yang postingan organisasi karena awalnya emang ditulis buat di media kampus, dan yang ini sebenernya dikirimin ke mojok tapi gak dimuat jadi dimuat di blog dah hahahaha. Tapi kayaknya emang udah saatnya ganti.

      ah gak stagnan kok! apalagi kalo baca postingan-postingan di blog yang buat alif. jadi pengen bikin blog juga buat anak gue nanti

      Hapus
  2. fak, gue juga pernah mikir soal ini. bahaya juga kan kalo dipikir pikir =..=

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya gue mikir dengan skill sejago itu kalo digunakan untuk kejahatan akan sangat berbahaya hahahaha

      Hapus
  3. wah kunci motor hilang tp bisa bikin yg baru, hebat juga ya , biasanay kan kl mau bikin kunci duplikat hrs ada aslinya

    BalasHapus
  4. Jadi inget waktu main ke candi prambanan, kunci motor teman saya rusak. Kami ngotak atik sendiri di parkiran kaya mau maling motor. Beruntung di seberang jalan ada tukang kunci.
    Iya ya, bermodal senter dan kunci template merek bisa membuat kunci duplikatnya...

    BalasHapus
  5. Kunci motor adalah salah satu barang yang sering bikin ribut di rumah. Gimana enggak, udah siap nangkring di atas motor, pak Suami baru nyadar kalo kunci motor belum ada di tempat seharusnya. Udah gitu masih cari-cari lagi...hadeeh...wkwkwk
    betewe, salam kenal dari Malang juga...

    BalasHapus

Harap komentar dengan bahasa yang sopan ya, as your grandma will read it :)

Page Ranking Tool
DMCA.com

I'm in

postimage
Mutsurini Team
Komunitas Online Kab.Tangerang Warung Blogger