Ketika Sahabat Tidak Lagi Bersahabat

6/08/2014


Sebenernya masih ada nyambung-nyambungnya dikit sama postingan sebelumnya tentang pertemanan di Path nih (eh baru aja gue posting itu, malah katanya sekarang batas temennya mau dinaikin lagi jadi 500 ya? gak ngerti lagi). Sebenernya apa sih perbedaan sahabat sama temen? Masih menurut penelitiannya Robin Dunbar, seorang Profesor Psikologi Evolusioner dari Oxford University, katanya dalam hidupnya, seorang manusia rata-rata akan memiliki 3-5 sahabat, 15 teman dekat, dan maksimal 150 orang teman. Jadi kalo diliat, jumlah sahabat lebih dikit dari jumlah temen, yang berarti sahabat ini lebih spesial dari temen, begitukah?

Kita tentu sering mendengar kalimat "jangan pilih-pilih teman" atau "bertemanlah dengan siapa saja", tetapi sering juga mendengar "kalau kamu berteman sama tukang ikan, bakal ketularan amisnya, kalau berteman dengan tukang parfum, bakal ketularan wanginya". Jadi sebenernya yang lebih relevan diterapkan yang mana nih? yang pertama atau yang kedua? ataukah kita harus memberi parfum kepada ikan-ikan yang dijual biar wangi?

Menurut gue, cara terbaik memahami perbedaan atau peran dari sahabat dan teman adalah dengan memperhatikan stereotype dari persahabatan yang udah banyak ditunjukan di film-film dan di kartun-kartun. Tengok saja Fairly Odd Parents, Danny Phantom, SKET Dance, dan lain sebagainya, menunjukan persahabatan tokohnya dengan sangat jelas.


Di Fairly Odd Parents misalnya, Timmy (tokoh utama di kartun tersebut) bersahabat dengan A.J dan Chester. Walaupun banyak kesamaan di antara mereka, misalnya sama-sama menyukai pahlawan super Chrimson Chin dan Crash Nebula, juga sama-sama termasuk kelompok anak cupu di sekolah yang sering dibully, tetapi mereka memiliki banyak sekali perbedaan. Timmy notabene berasal dari keluarga menengah dan bodoh, Chester adalah anak orang miskin yang bapaknya homeless dan tinggal di caravan, kepribadiannya sedikit gila, sebaliknya, A.J adalah anak orang kaya yang jenius. Tetapi mereka bisa bersahabat, main game bareng, dalam suka ataupun duka. Bisa ditarik sendiri kan kesimpulannya?


Terus kalo liat Danny Phantom, dari awal cerita sudah terlihat persahabatan antara Danny, Sam dan Tucker. Mereka memiliki sifat yang tentu saja berbeda, Danny anak biasa-biasa aja yang kerap dibully oleh Dash dan gerombolannya, Sam seorang cewek gotik yang cinta lingkungan, sementara Tucker adalah anak kulit hitam maniak teknologi. Yang sangat terlihat dari persahabatan mereka adalah kejujuran mereka masing-masing kepada satu-sama lain. Mereka sering nongkrong bareng buat makan misalnya di Nasty Burger dan cerita-cerita tentang masalah mereka, masalah di rumah, atau ketika mereka suka sama orang. Mereka juga saling menjaga rahasia, terlihat bagaimana Sam dan Tucker selalu menjaga rahasia kekuatan hantu Danny, bahkan dari kakaknya sendiri, Jazz.


Dari dua contoh di atas udah kita bisa tarik beberapa kesimpulan sebenernya, sahabat itu biasanya yang walau berbeda-beda tapi tetap memiliki kesamaan dan mereka bisa get along, saling membantu, suka maen bareng, berbagi cerita, dan bisa jaga rahasia. Dan dari contoh tadi dua-duanya adalah trio, entahlah kalo bertiga adalah jumlah ideal dari persahabatan. Dan jangan khawatir dengan contoh yang fiksi seperti karakter kartun karena karakter kartun juga kan merupakan cerminan kehidupan kita sehari-hari.

Lalu apakah seorang sahabat adalah yang memiliki ciri-ciri kayak tadi? (suka main bareng, nongkrong bareng, tempat berbagi, jaga rahasia). Kalau boleh ditarik DNA dari ciri-ciri tersebut, ianya adalah "kepercayaan". Tanpa kepercayaan, persahabatan tidak akan bisa berjalan mulus dan menyenangkan kayak yang udah disebutin tadi. Kepercayaan kepada sahabat agar kita bisa menjadi diri kita sendiri, apa adanya, tidak takut akan dipandang buruk oleh mereka. Sehingga outputnya adalah kita mempercayai mereka sebagai tempat cerita dan curhat tentang masalah-masalah kita, kita percaya mereka, mereka akan tetap menjadi mereka walaupun mendengar apa yang akan kita katakan. Menurut gue itulah intinya persahabatan.

Tapi kalau kayak begitu mah semua orang juga udah tau, gue yakin gak usah dikasih contoh kayak tadi pun semuanya udah punya bayangan tentang persahabatan yang kurang lebih sama dengan apa yang barusan gue tulis. Nah sebenernya gue memasuki diskusi yang lebih dalam dari itu : Perlu gak sih punya sahabat?

Seberapa pentingnya punya sahabat? Tergantung sih, tidak bisa kita jadikan tuntutan hidup, tidak bisa juga kita abaikan begitu saja. Mungkin jawaban yang paling pas adalah "kalau ada orang yang cocok dijadiin sahabat, ya bersahabatlah". Ya, menurut gue, penting untuk menemukan orangnya dulu daripada memutuskan mau punya sahabat apa enggak. Serius, mungkin dari kita ada yang mikir gak ada orang yang akan sebegitu ngebetnya mau punya sahabat, soalnya kebanyakan kan terjadi begitu saja secara otomatis yang dipersatukan oleh persamaan dan perbedaan. Tetapi ada aja loh, wong nyari pacar aja ada yang ngebet-sengebet-ngebetnya kayak kalau gak dapet pacar bakal diekstradisi dari planet bumi aja. Apalagi nyari sahabatada juga yang kayak gitu. Nah bahaya nya adalah ketika kita menentukan terlebih dahulu bahwa mau punya sahabat, baru nyari orangnya, kita akan cenderung nyocok-nyocokin, dan bisa saja salah memilih.

Memangnya milih sahabat itu kayak gimana? Kalau dari yang gue liat sih, berdasarkan prinsip kepercayaan tadi, seorang sahabat berarti adalah orang yang tidak akan kita pedulikan citra kita di depannya, bahwa kita bisa apa adanya di depan mereka. Nah gue melihat ini dibagi jadi dua :

1. Mereka yang sangat tau tentang diri kita luar dalam dari awal sehingga kita gak perlu khawatir lagi tentang rahasia atau sifat asli kita kepada mereka, toh mereka udah tau. Dan kalupun mereka gak taupun, ntar juga mereka bakal tau sendiri. Jadi kita bisa benar-benar terbuka dengan mereka.

2. Mereka yang tidak tau tentang diri kita sama sekali, baik itu latar belakang, cerita-cerita, atau sejarah kita, yang tidak memiliki persepsi awal tentang diri kita sama sekali, sehingga kita tidak perlu ngawatir akan menghancurkan persepsi awal itu kalau kita menunjukan diri kita yang sebenarnya, kita pun akan bisa benar-benar terbuka dengan mereka.

Kesamaan diantara dua kelompok tadi adalah, dua-duanya gak ada yang nanggung dan setengah-setengah. Semuanya bener-bener total. Kalau tau ya tau banget, kalau gak tau ya gak tau banget. Dan kelompok kedua ini walau kedengarannya aneh tapi memang benar-benar ada, terutama di zaman internet kayak gini, yang dekat bisa jadi jauh dan yang jauh bisa jadi dekat : seseorang bisa punya sahabat yang seorang teman di dunia maya.

Jadi kalau nanti-nanti kita menemui kok sahabat kita punya suatu masalah tapi gak mau cerita sama kita, jangan paksa sahabat kita itu untuk cerita dengan bilang "ceritalah, kita kan sahabatmu" berulang-ulang walaupun dia tidak mau menceritakannya. Jangan pernah tanya kenapa sahabatmu gak mau cerita, tapi tanyakan kenapa kamu tidak cukup dipercaya oleh sahabatmu itu untuk nyeritain masalahnya sendiri tanpa diminta.

Jangan-jangan dulu waktu kita membentuk persahabatan, dengan berteriak-teriak "kami sahabat!" dan pake kaos oblong "we are bestfriend" ternyata "sahabat" kita itu masih setengah-setengah. Mungkin "sahabat" kita ini adalah orang yang memutuskan terlebih dahulu pengen punya sahabat alih-alih menemukan orang yang tepat dulu. Mungkin kita bukan orang yang tepat. Maka yang seperti itu bukan persahabatan sebenarnya, hanya sebuah claim tanpa kepercayaan.

Persahabatan adalah ketika kita bisa dengan tenang melepas topeng kita, berapa lapispun itu. Kalau kita belum menemukan orang yang tidak akan kabur ketakutan untuk melihat wajah dibalik topeng itu, tidak usah ngebet dulu ingin memiliki sahabat, ya, yang mau ke toko sablon buat nyetak kaos "we are bestfriend" itu stop dulu!

Gak punya sahabat juga bukan sesuatu yang buruk-buruk amat, bisa aja kita sudah punya sosok sahabat di keluarga sendiri, atau yang lainnya. Dan walaupun kadang sahabat bisa lebih dari keluarga (seperti Danny yang tidak menceritakan rahasia kekuatan hantunya kepada orangtuanya tapi menceritakannya kepada sahabatnya), kita juga masih tetap bisa memilih, mana yang mau kita ceritakan dan mana yang tidak mau kita ceritakan ke sahabat kita. Untuk alasan tertentu, gak semua rahasia harus dishare dengan sahabat.

Lalu yang mana yang benar? "Jangan pilih-pilih teman" atau "kalau kamu berteman sama tukang ikan, bakal ketularan amisnya, kalau berteman dengan tukang parfum, bakal ketularan wanginya" ? Menurut gue, sementara kita sepakati saja "Jangan pilih-pilih teman, bertemanlah dengan siapa saja, tapi untuk sahabat wajib pilih-pilih" dan "Silahkan berteman dengan tukang ikan atau tukang parfum tapi bau ketek kita harus tetap paling dominan daripada bau ikan atau bau parfum".

ENJOY YOUR DAY!

Ditulis oleh Ramy Dhia
Seorang mahasiswa arsitektur yang mencintai dunia desain, teknologi, pop culture, dan penulisan. Ngeblog sejak 2010 dan mulai ngeVlog di Youtube sejak 2014. Hobi nonton TV Series dan merupakan pemain abadi dari game Harvest Moon: Back to Nature.
NB: Bercita-cita ingin menguasai dunia.


You Might Also Like

12 komentar

  1. Cuma sama sahabat kita bisa cuek berlaku se-enggak-normal mungkin. Cuma sama sahabat kita bisa nyebut mereka pake julukan paling kampret sekalipun, dan merekanya nggak tersinggung. Yang iya malah bales ngatain ._.

    Anyway, nice post :D

    BalasHapus
  2. Anjir, temen gue ada tuuh yang kayak "kok lo ga cerita sih, katanya sahabat" terus kalo ga di ceritain dianya ngambek. Nyeselin asli._.

    BalasHapus
  3. Seharusnya ya lebih milih ke "Jangan pilih-pilih teman".

    Penting gasih punya. Sahabat? Menurut gue sih penting, soalnya terkadang sahabat itu udah kayak keluarga sendiri. Asal jangan ada FAKE di antara kita. Gitu ajasih. (?)

    BalasHapus
  4. Maka yang seperti itu bukan persahabatan sebenarnya, hanya sebuah claim tanpa kepercayaan.
    Kata-kata ini ngena banget. Kerennn!!

    BalasHapus
  5. yaampuuun ram, gue baru tau itu penelitian. hahaha. setiap orang punya 3-5 sahabat. tapi iya juga sih ram. kalo menurut gue sahabat itu pentiiiing, pentinggg bangeeet. karna saat jadi mahasiswa apalagi tingkat akhir, itu jadi kebutuhan dan ketenangan lo krn punya sahabat.

    BalasHapus
  6. @Agatariza Tara
    hahaha ada kan yang kayak gitu XD

    BalasHapus
  7. @N O N I
    hoo gitu ya, okedeh kakak-kakak tingkat akhir XDb

    BalasHapus
  8. betul koq jangan pilih2 teman. sahabat yang harus pilih2 atau mungkin akan terseleksi sendirinya dari sekumpulan teman akhirnya terseleksi beberapa sahabat.
    kalau teman bisa macam2, teman sekolah, teman seperjalanan, teman sepekerjaan.
    kalau sahabat merangkup semuanya termasuk curhat pribadi hehehe menurut saya sih itu.

    BalasHapus
  9. @Anton J
    ah benar, teman bisa dapet dari mana aja dan formalitas, kayak teman sekolah, teman les, teman kantor, itu bukan kita yang milih tapi emang disatukan oleh keadaan heuheu

    BalasHapus

Harap komentar dengan bahasa yang sopan ya, as your grandma will read it :)

Page Ranking Tool
DMCA.com

I'm in

postimage
Mutsurini Team
Komunitas Online Kab.Tangerang Warung Blogger