Aku Tidak Ingin Menjadi Dewasa

11/13/2013



Mungkin sekarang adalah saat-saat tergalau dalam hidup gue. Saat-saat dimana gue akan melangkah ke yang namanya status dewasa (setidaknya seharusnya dewasa). Kenapa gue galau? Karena gue merasa gue masih pengen jadi anak kecil. Masa-masa kecil gue terasa begitu indah dan sempurna, gue belum mau memasuki dunia orang dewasa yang akan sangat berbeda. (Katanya) Di dunia orang dewasa ini, kita akan dihadapkan pada berbagai pilihan-pilihan hidup yang akan menentukan masa depan kita nantinya, dan tidak memlilih adalah pilihan yang lain. Di dunia ini kita harus bertanggung jawab dengan diri sendiri. Di dunia orang dewasa ini, kita akan.... sendiri. Rasanya masih enggan gue melepaskan berbagai privilage sebagai anak-anak dan anak sekolah. Gini, kayaknya waktu kita jadi anak-anak dan anak sekolah itu, setiap kita melakukan sesuatu yg keren, ada nilai plusnya, kayak "wah masih anak sekolah? hebaaat" dan gak akan terjadi lagi kalo udah lulus.

Jadi anak-anak tuh enak, bisa main terus. Walaupun orang dewasa juga bisa main terus, tapi 
gak se-gak-merasa-berdosa kayak waktu masih anak-anak. Selain itu, waktu bermain anak-anak juga lebih banyak karena belum disibukkan dengan kewajiban-kewajiban orang dewasa. Rasanya pikiran anak-anak itu masih plong banget, dan hidup untuk hari ini.

Ah, bukannya gue takut jadi dewasa sih, gak kok, gak segitunya, cuma seperti yang gue bilang, akhir-akhir ini banyak sesuatu yang bikin gue mikir kalo gue lagi ada di peralihan ke masa dewasa, dan.... ah... kok udah sih... rasanya cepet banget gitu huhuhu. Asli yah ini postingan gak jelas banget, udah lama gak nulis malah posting yang gak jelas gini, sebenernya draft postingan ini udah ada dari sesaat gue lulus SMA, tapi baru sempet diselesain sekarang *parah ya?*. Oh ya, beberapa hal yang membuat gue sadar gue telah beranjak dari masa kecil, sebenernya hal-hal begini udah gue sadari mulai dari gue beranjak ke SMP. Jadi, dulu waktu gue kelas 3an SD gitu, gue suka nonton Digimon, dan di sana karakter-karakternya rata-rata kelas 5 SD. Di situ gue ngeliat sepupu gue yang kelas 5 dan berkata dalam hati "wah enak ya udah kelas 5, seumuran sama Taichi", gue pun pengen cepet-cepet kelas 5 biar ngerasain gimana rasanya seumuran sama Taichi, Yamato, dan kawan-kawan. Aneh banget ya, tapi beneran gitu kok, dan pas gue kelas 6 dan SMP, gue rada sedih karena udah gak seumuran lagi sama karakter Digimon. Tapi waktu SMA dan tontonan anime gue udah bukan Digimon doang --kebanyakan school life yang karakter-karakternya SMA-- gue mulai merasakan lagi keseruan seumuran sama karakter yang kita tonton, dan begitu udah lulus SMA, sedih lagi deh. Itu salah satunya, sebenernya ada beberapa momen yang lebih pol galauin umur, diantaranya :

1. Dipanggil "Mas" , bukan "Dek" lagi

Dulu setiap ke tempat umum, baik sama ibu-ibu warteg, mbak-mbak fotocopyan, atau pedagang asongan dipanggilnya "dek" atau "jang" lah (dari Ujang, sebutan untuk laki-laki muda Sunda). Tapi entah kenapa seiring dengan bertambahnya kumis umur, panggilan itupun bergant jadi "mas". "Mau isi berapa, mas?" , "tambah apa lagi, mas?" , "itu kaos kaki saya, mas!" dan lain sebagainya. Gue jadi merasa udah gak ada bedanya gue dan mas-mas pabrik belah pinggir yang suka nongkrong makan gorengan di sela-sela waktu istirahat. Apalagi gue gak pernah dipanggil "mas", walau gue anak pertama, tapi gue dipanggilnya "A'a" kalo di rumah atau "Abang" sama adik-adik sepupu gue, dan tetep, "mas" kesannya lebih tua dari "A'a" atau "Abang" karena seperti ada standar tersendiri untuk panggilan mas itu.


2. Bikin Rekening

Waktu pertama buka rekening, somehow gue merasa gue sudah memasuki satu daerah orang dewasa. Bank, yang oleh gue kecil dianggap sebagai suatu sistem besar yang sulit dimengerti dan hanya orang dewasa yang bisa menggunakannya, waktu gue bikin rekening, kok gue ngerti. Ternyata bank tidak se-ribet yang gue pikirkan waktu kecil (ya kalo cuma buat nabung yah, gak tau deh kalo credit dll), bahwa di dalem bank itu ternyata ada manusianya, bukan sistem otomatis *lo kira robot ram!?*. Tapi dengan semakin gue mengerti kayak gitu gue juga merasa kayaknya gue udah gede dan bukan anak kecil lagi. Mempunyai rekening sendiri adalah bukti bahwa kita sudah dipercaya oleh bank untuk bisa mengatur keuangan di rekening itu, yang mana biasanya itu adalah aktifitasnya orang dewasa.

3. Dipanggil "Pak"

Baru aja tadi bahas dipanggil mas, sekarang udah dipanggil Pak aja. Gak, maksud gue dipanggil "Pak" sama satpam dan jajaran pegawai bank pas gue bikin rekening itu. Iya, awalnya gue kaget dipanggil Pak, soalnya baru pertama kali... hello... walau gue dateng ke bank pake seragam SMA pun pasti tetep dipanggil "Pak", ya ya gue tau itu bagian dari sopan-santun nya pegawai bank, tapi tetep... itu nyelekit, bikin gue merasa semakin udah gak jadi anak kecil... anak kecil mana yang dipanggil "Pak"... "Bapak Ramy... Bapak Ramy.." gue belum punya anak woy!

4. Dapet KTP

Oke, gue rasa ini momen yang paling bikin gue merenung kalo ternyata gue udah bukan anak kecil dan udah beranjak dewasa, yakni saat pembuatan KTP sampe KTP nya itu ada di tangan gue. Efeknya jauh lebih dahsyat daripada punya kartu ATM dan buku tabungan tadi, KTP adalah kartu tanda pengenal resmi negara, dan lebih jauh dari itu, kalo seseorang udah punya KTP, berarti dia udah diakui sebagai warga negara yang sah, seseorang yang dewasa yang memiliki kesetaraan yang sama di depan hukum dan memiliki hak suara yang sah. Umur ke 17 di Indonesia khususnya adalah umur yang dianggap udah dewasa dan udah boleh nonton bokep. 

Waktu awal nyampe surat dari pak RT tercintah tentang undangan pembuatan e-KTP dan ternyata selain ada untuk ortu gue, ada juga untuk gue, gue udah mikir kalo 17 tahun gue hidup ternyata kerasa sebentar. Dan saat gue menerima KTP nya, yang ada di pikiran gue cuma dua; "akhirnya gue diakui sebagai warga negara Indonesia yang sah" dan "ah tidaaaak gue udah dewasaaa".

5. UN

Sebenernya gue gak terlalu mikirin UN, gue lebih konsen ke SBMPTN waktu itu. Tapi gue kebawa suasana juga, tentang gembar-gembornya UN dan alih-alih menganggapnya sebagai ujian akhir, gue lebih menganggapnya sebagai ujian terakhir. Ujian terakhir kita di sekolah, ujian terakhir yang akan kita lakukan bersama teman-teman, ujian terakhir yang kita lakukan di ruang kelas sekolah kita, ujian terakhir, ujian perpisahan dengan sekolah huhuhuhu.

6. Perpisahan

Acara perpisahan sekolah selalu menjadi saat-saat membuat kenangan terakhir bersama teman-teman, seperti namanya, perpisahan, jadi ya saatnya teletubbies berpisah. Tapi ada yang lucu sih, di sekolah gue biasanya perpisahan dulu baru pengumuman UN, jadi makna perpisahannya gak bener-bener abis acara perpisahan pada berpisah gitu, orang masih harus ke sekolah, masih pada bimbel buat SBMPTN, dan ngurus-ngurus ijazah nantinya hahaha. Walau begitu, tetep aja pas perpisahan gue nangis huhuhu. Iya gue gak bisa nahan air mata waktu salaman satu-satu sama guru, momen itu adalah momen "aku akan berangkat ke dunia orang dewasa yang dingin, pak, bu... terimakasih atas bekal ilmu yang telah kalian berikan"

7. Kuliah dan Tinggal Sendiri

Dan pada akhirnya, puncak kegalauan tentang menjadi dewasa adalah waktu udah mulai kuliah dan tinggal sendiri. Berhubung gue dapet kampus yang di luar kota, gue dari Tangerang dan kampus gue berjarak 800km jauhnya yakni di Kota Malang, otomatis gue ngekost dan tinggal sendiri di kota yang baru ini, jauh dari keluarga dan jauh dari orangtua, harus ngurus hidup sendiri, dan ngatur segalanya sendiri, seperti yang orang dewasa lakukan, sendirian, tanpa ada yang mengingatkan lagi.

Waktu kuliah juga jadi inget kalo gue udah dewasa, selama ospek selalu dibilangin berulang-ulang "kalian tuh mahasiswa, bukan siswa lagi, beda karena blablablabla" semakin membuat gue merasa sudah meninggalkan masa-masa jadi anak sekolah.. masa-masa jadi anak-anak.

Dalam momen-momen kegalauan itu juga gue menemukan beberapa lagi yang cocok menggambarkan perasaan gue, coba aliens simak dan resapi lagu-lagu berikut :


Sherina - Lihatlah Lebih Dekat





Hatiku sedih
Hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah 
Hatiku bertanya
Hatiku curiga
Mungkinkah kutemui kebahagiaan seperti di sini
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka 
....

Lagu ini menemani saat-saat gue sedih mau berpisah dengan teman-teman di sekolah, dan teman-teman di Tangerang. Apa yang akan terjadi waktu gue pindah ke Malang nanti? Mungkinkah kutemui kebahagiaan seperti di sini?

K-ON - Tenshi ni Fureta Yo


.....
I've worn these school shoes and uniform for a long time
and I'll surely miss the doodles on the whiteboard
but to get through to tomorrow
I seem to have to leave them behind at the door

But hey, we got to meet a wonderful angel
Graduation isn't the end
Because we'll still be friends
....

Salah satu lagu di anime K-ON ini adalah lagu pengantar perpisahan sekolah. Di animenya sendiri lagu ini adalah lagu persembahan buat Azusa saat Mio, Mugi, Yui, dan Ritsu mau lulus dan meninggalkan Azusa, saat-saat paling mengharukan di animenya.

Greeeen - Sakura Color



....

First time in this town, in the first spring time
My journey will start in this town from now on
Even I can't meet you for a while
Full of energy to run from the past


Sakura color, now I have to say goodbye

From that old day, continue on my own way
Untill the day that I can get bloom in this town
Making that decision and look up to sakura
....

Sebagai ARB (Anak Rantau Baru) lagu dari Greeeen ini sangat mewakili perasaan gue waktu pertama kali menginjakkan kaki di kota yang baru dan membuat gue semangat untuk memulai petualangan di kota ini.


Rhett and Link - The Graduation Song



....

Now you're on your own
Don't screw this up
You're on your own
Good luck
....


Dan inilah lagu yang selalu gue puter setiap hari sejak di hari pertama gue tinggal di kostan. Lagu dari duo youtuber Rhett and Link dipersembahkan khusus untuk mereka yang baru lulus dan mulai menginjakkan kaki di dunia orang dewasa. Lagu ini bener-bener bener banget, dan sebenernya rada nakutin juga, tapi seenggaknya lagu ini memberi gambaran apa yang akan kita temukan dan apa yang sudah kita tinggalkan.

Demikianlah curhat gue tentang kegalauan memasuki masa-masa dewasa. Waktu tak bisa dihentikan, bagaimanapun umur selalu bertambah, tapi dengan bertambahnya umur belum tentu seseorang bertambah dewasa. Gue sendiri akan berusaha untuk dewasa lagi dalam berpikir dan menghadapi masalah, tapi kalo urusannya tentang bersenang-senang, gue ingin tetap jadi anak-anak, gue masih suka main game, main mobil-mobilan, main berantem-beranteman dan lain-lain, tak ada yang lebih jago dalam bersenang-senang selain anak-anak, jadi marilah jadi anak-anak dalam bersenang-senang!

Kalo temen-temen juga merasakan hal yang sama dengan yang gue rasakan, atau sebaliknya, ataupun punya list lagu-lagu lain yang cocok menemani galau umur ini, silahkan kasih tau lewat komen dibawah ya~



ENJOY YOUR DAY!

Ditulis oleh Ramy Dhia
Seorang mahasiswa arsitektur yang mencintai dunia desain, teknologi, pop culture, dan penulisan. Ngeblog sejak 2010 dan mulai ngeVlog di Youtube sejak 2014. Hobi nonton TV Series dan merupakan pemain abadi dari game Harvest Moon: Back to Nature.
NB: Bercita-cita ingin menguasai dunia.


You Might Also Like

32 komentar

  1. Dulu pernah ngerasain masa masa galau ini. Bahkan setiap. Nggak pernah pengen dewasa. Jadi dewasa terlalu sulit dan rumit. Cari kerja, nggak bisa main sama teman-teman lagi-well, some friends change, di kantor kebanyakan orang lebih tua yang nggak bisa dijadikan teman, bakal nikah..., duh bener-bener galau dulu. Sekarang? Alhamdulillah, I kinda enjoy to be a... err, young adult. Tapi, tetep berharap bisa nge-freeze waktu so I don't get older. Dan, sejak masih anak anak

    BalasHapus
  2. Emang sih sering kepikiran gitu, tapi ya jalanin ajalah. TOh pada akhirnya sekarang gue terima dengan kondisi itu semua, kuliah di luar kota dan hidup menyendiri..
    Seru sih kalo, mandiri banget gue :)

    BalasHapus
  3. Umur boleh menua tapi jiwa mah harus selalu setia muda.

    BalasHapus
  4. sampai sekarang masih ngrasain galau karena ini. galau ini menduduki posisi pertama list galau ane. dunia dewasa kayaknya udah gada lagi yang namanya kompak bolos, kompak nyolong mangga tetangga. ahh mereka sudah sibuk dengan dunianya sendiri, sedangkan ane...sebenrnya belum siap untuk sendiri.
    terimakasih telah membuat postingan kaya begini.

    BalasHapus
  5. aeeh kuliah dan tinggal sendiri :D gue dari SMA udah kost karena SMA gue di kota tetangga :D

    BalasHapus
  6. hidup itu dinamis bro..
    itu aja si

    BalasHapus
  7. ini hubungannya lagu - lagu di atas apaan om?

    BalasHapus
  8. Tapi kalo saya, jadi dewasa itu bagus..
    Kita bisa lebih realistis.. hehhe
    Ngomong2 adegan pas video K-ON diatasa, sedih brow.. :D

    BalasHapus
  9. wuaa. gua jadi teringat masa gua kecil bro. gak kerasa banget ya waktu berjalan. rasanya baru kemarin gua lahir. sekarang udah mau kepala 2.
    tapi ya namanya hidup, jalanin aja deh, suka tidak suka.

    btw, mampir ke blog gua juga ya

    BalasHapus
  10. sama, gue juga pernah begini nih.. ya namanya hidup, pasti ada yang berubah lah, tinggal kita nya aja yang nyikapin / nge-adaptasi-in diri nya gimana ketika dewasa kelak..
    btw, cool posting bro. :)

    BalasHapus
  11. Hahah, kalau hidup bisa diatur sesukia hati juga gue nggak mau cepet2 tua :)) cepet tua cepet ngadepin Yang Kuasa :')

    BalasHapus
  12. Makanya persiapkan apa saja yang penting di masa dewasa ini (* sok dewasa gw)

    BalasHapus
  13. @umar dani
    iya sih mau gak mau ya jalanin aja, mungkin belum menemukan keseruan aja di dunia dewasa ini dan masih pengen ngerasain keseruan dunia anak-anak

    BalasHapus
  14. @Tomi Azami
    haha bener, di dunia dewasa ini sendiri, dan banyak yang sudah diracuni kepentingan ._.

    sama-sama, postingan ini selain curhat juga untuk menemukan yang sedang galau kedewasaan juga :D

    BalasHapus
  15. @Mappangaja Amir
    tapi kalo saya justru jadi "realistis" itu yang paling gak disukai di dunia orang dewasa, gak seimajinatif dunia anak-anak :-/

    iya emang sedih banget T_T

    BalasHapus
  16. @Zegaisme
    bener bro, waktu emang gak berasa :))

    BalasHapus
  17. @Rendi Azmi
    wah pernah juga :')
    yup, pasti bisa kok beradaptasi ntar, tapi biasalah awal-awal masih suka mengenang yg baru saja dilewati..

    makasih, bro :D

    BalasHapus
  18. @Rian Nofitri
    selamanya anak-anak :')

    tapi jadi anak-anak juga gak memungkiri dipanggil yang Maha Kuasa sih ._.

    BalasHapus
  19. baru baca dan ikutan sedih.
    Sifat dewasa ga masalah asal tau sikon yg tepat aja, kalo sehari-hari sih pake sifat anak kecil aja kayak gua. Karena menjadi anak kecil selalu menyenangkan semisal bawa mobil remot ke sekolahan '-')9
    *nyari kenangan tambahan selagi SMA*

    BalasHapus
  20. *Baru baca* Perasaan langsung agak gimana gitu. Ini bener banget :')
    Mumpung masih SMA dan masih ada waktu 1 tahun lagi. Jadi gue gak boleh sia-siain masa ini :D

    BalasHapus
  21. Haii Blog nya bagussss

    hahahah langsung nostalgia

    Mau kasih info
    Yang suka nulis di blog

    ada info nihh
    coba deh ikutan lomba nge bLog tentang nyunyu,com, hadiahnya 5 juta rupiah total CASH ....

    http://www.nyunyu.com/main-article/detail/artikel-berhadiah-lomba-ngeblog-tentang-nyunyu

    Nyunyu.com ini website anak muda founded by Radityadika dan Arief muhammad ... sekalian check check aja artikel kitaa yaaaa

    Thankss
    Bv

    BalasHapus
  22. @Siswanto Wahyu Bowo
    yeah jangan sia-siakan masa SMA mu, nak!

    BalasHapus

Harap komentar dengan bahasa yang sopan ya, as your grandma will read it :)

Page Ranking Tool
DMCA.com

I'm in

postimage
Mutsurini Team
Komunitas Online Kab.Tangerang Warung Blogger