Bangkitnya Surga Selatan yang Tersembunyi

5/11/2012


"Communication is everyone's panacea for everything" - Tom Peters
Setujukah teman-teman dengan quote di atas? Kalau aku sangat setuju, komunikasi adalah obat mujarab semua orang untuk segala hal, tanpa komunikasi yang baik, tentu kita bisa menemui kegagalan dalam hal apapun. Ngomong-ngomong tentang komunikasi, aku jadi teringat tentang perjalanan ke Pantai Sawarna di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Banten. Tentang perjalanan menuju desa tersebut pun sudah pernah aku posting di blog ini, maka sekarang aku akan cerita dari sisi yang berbeda, yaitu tentang betapa komunikasi telah menjadi gerbang kemajuan untuk desa tersebut dan bagaimana XL Memajukan Negeri.

Ketika disebut Pantai Sawarna, kebanyakan orang belum tahu dimana letak pantai tersebut, begitu kalimat dilanjut, terletak di kecamatan Bayah, mungkin banyak orang juga yang belum tahu. Letak pantai ini memang agak terpencil, kecamatan Bayah terletak di ujung selatan provinsi Banten, sekitar 7 jam perjalanan dari Jakarta. Aku sendiri tahu Pantai Sawarna ini karena punya kerabat jauh disana, dan pada liburan lebaran tahun 2009, aku dan keluarga besar diajak olehnya menghabiskan liburan disana. Cihuy!
Perjalanan yang panjang dan melelahkan, terbayar sudah ketika kita mulai memasuki Kecamatan Bayah, karena sudah bisa melihat pemandangan pantai di pinggir jalan, wah asri sekali, pantainya masih berpasir putih, bersih, dan sepi. Yang menarik adalah, ketika kita memasuki kecamatan Bayah, banyak sekali atribut XL di sepanjang jalan, warna biru dan oranye-nya mendominasi bangunan-bangunan seperti bangunan sekolah, dan konter di pinggir jalan, ternyata XL sudah masuk sampai ke daerah Banten bagian ujung seperti disini.
Sampai kami memasuki kawasan hutan jati, pemandangan laut sedikit terhalang, setelah berjibaku dengan pepohonan disana, mobil kami sampai di titik dimana bisa menikmati lagi pemandangan laut yang jauh lebih indah. Dan disini pula berdiri sebuah warung kecil yang menjual es kelapa, lalu kami berhenti untuk sekedar beristirahat menikmati es kelapa dan rujak disana sambil kembali memotret pemandangan.
Foto pantai yang diambil dari warung
Walau tidak ada tulisan atau plang nya, aku, adikku, dan sepupu-sepupuku iseng bertanya ke mbak pemilik warung itu sambil membeli es kelapa muda, “Mbak, jual pulsa gak?”, dan tidak disangka ternyata jual lho, yasudah si Mbak pun diserbu oleh kami yang ingin mengisi pulsa. Usai mengisi pulsa, si Mbak bilang, “Tapi nanti di bawah gak bakal dapet sinyal lho, Dek”. Hah? Di bawah? Di bawah mana nih maksudnya? Alih-alih menanyakan hal itu, aku malah lebih tertarik dengan kalimat setelahnya, “Beneran Mbak gak ada sinyal?” tanyaku dengan sedikit cemas. “Beneran, paling cuma XL doank yang masih bisa dapet sinyal, orang sini sih kebanyakan pada pake XL”, jawab Mbaknya. Aku lega kalau ternyata XL masih mendapat sinyal,kembali teringat pula atribut XL yang kulihat sepanjang perjalanan tadi bukan sekedar atribut, tetapi bukti bahwa XL sudah menjangkau sampai pelosok daerah walau diujung Selatan seperti Bayah sekalipun, keren!

Setelah kami beranjak dari warung kecil itu, akhirnya aku mendapat jawaban apa yang dimaksud dengan “di bawah” oleh Mbak tadi. Ternyata tidak jauh setelah warung tersebut, ada turunan yang sangat panjang dan lumayan terjal, dan di bawah sana-lah Desa Sawarna berada. Saat turun, satu mobil menahan nafas, dan akhirnya kami sampai di Desa Sawarna, Alhamdulillah.

Sesampainya di bawah, aku, adikku, dan sepupuku langsung mengecek handphone masing-masing , wah ternyata benar apa kata Mbak tadi, handphone keluarga dan sepupuku yang tidak pakai XL tidak mendapatkan sinyal sama sekali disini, beruntunglah karena pakai XL. Ada satu dua konter HP di desa ini yang kami lihat, dan sama seperti di jalan tadi, mereka menggunakan atribut XL.

Kami berhenti di rumah Om Adam, disana kami disambut dan dipersilahkan beristirahat di rumahnya. Sambil istirahat, kami juga mengobrol dengan Om Adam dan keluarga, aku bertanya tentang Pantai Sawarna dan Desa Sawarna, karena ini pertama kalinya aku kesini. Dari dulu, desa Sawarna dikenal dengan industri kayu-nya, banyak kayu-kayu berkualitas yang diproduksi menjadi mebel atau bahan bangunan di desa ini. Memang, sepanjang jalan tadi juga kami melihat banyak yang di depan rumahnya terdapat kayu-kayu, kebanyakan adalah kayu pohon jati dan ada juga kayu pohon kelapa, dan hutan jati yang kita lewati sebelum sampai kesini adalah bukti kekayaan alam Kecamatan Bayah ini. Oh ya, aku juga baru tahu, kalau ternyata kursi kayu yang ada di teras depan rumahku dipesan dari sini langsung, padahal dulu belum pernah kesini.

Sampai di rumah Om Adam, disuguhin es kelapa
 Mengenai potensi wisata, Desa Sawarna memiliki beberapa objek wisata selain Pantai Sawarna, sebut saja Tanjung Layar dan Goa Lalay. Tetapi yang menjadi favorit wisatawan adalah Pantai Sawarna, karena pantainya yang bersih, dengan pasir putih dan ombak yang besar khas pantai selatan, menjadikan pantai ini menjadi tujuan wisatawan asing untuk surfing, bahkan mereka menjulukinya sebagai "Bali II".

Mendengar cerita Om Adam, aku semakin tidak sabar untuk segera bermain di pantai. Oh ya, Om Adam juga cerita, kalau kakaknya, Om Ade, memiliki usaha rumah tinggal (homestay) untuk para turis yang berkunjung ke Desa Sawarna, namanya "Homestay Widi". Kkarena semakin hari semakin banyak saja turis yang datang, pantai sawarna jadi semakin dikenal, dan kamar-kamar di homestay Om Ade selalu penuh oleh turis, tapi karena mengetahui kami akan datang, satu rumah homestay widi sudah dikosongkan untuk tempat kami menginap walau harus menolak beberapa tamu yang ingin booking kamar. Wah mendengarnya kami sangat berterimakasih sekaligus sedikit tidak enak, hehe.

Kami-pun segera menuju ke Homestay Widi untuk menaruh barang bawaan dan sudah tidak sabar untuk main ke pantai. Di Homestay Widi ini kami bertemu dengan Om Ade, waktu itu homestay widi terdiri dari 2 rumah, rumah yang satu sudah full diisi turis yang semuanya turis asing, dan rumah satu lagi untuk keluarga besar kami. Dari obrolan dengan Om Ade, aku mengetahui kalau para turis asing yang datang menginap disini rata-rata tahu Pantai Sawarna dan Homestay Widi dari internet, dan dari pengalaman teman mereka yang pernah kesini sebelumnya, sebelum berangkat, mereka lebih dulu booking kamar lewat telepon.

 Sampai di homestay Widi
 Terbayang kan kalau disini tidak ada sinyal sama sekali? Bisa-bisa homestay widi dan rumah penginapan lainnya susah dicari atau para turis tidak mendapat kamar saat sampai disini karena belum booking. Booking kamar di Home Stay Widi bisa dihubungi di nomor 081911282912.

Dan waktu itu, dua hari kami habiskan dengan menyenangkan di Desa Sawarna, amazing!


Sunset di Pantai Sawarna

 2 Tahun Kemudian

September 2011, atau dua tahun sejak perjalanan ke Sawarna, kami keluarga besar memutuskan untuk kembali berlibur kesana, ingin melihat lagi surga selatan yang tersembunyi itu sekaligus bersilaturahmi. Tapi kami tercengang disertai rasa setengah tak percaya ketika kami memasuki Kecamatan Bayah. Awalnya belum ada yang jauh berbeda, atribut XL di pinggir jalan yang menghiasi bangunan-bangunan, dan lain-lain. Tapi semakin mendekati Sawarna, pemandangan sama sekali berbeda dari yang kami bayangkan.

Sekarang sudah banyak berdiri bangunan di pinggir jalan dekat pantai, banyak restoran, tempat penginapan, dan tempat rekreasi. Suasana pinggir pantai yang kami lihat di jalan 2 tahun lalu yang sepi tak tampak lagi. Perubahan drastis juga terjadi saat kami melewati jembatan menuju hutan jati di jalan menuju Sawarna, disana ada Pantai Pulo Manuk yang sangat ramai. Bahkan dulu waktu melewatinya, aku tidak tahu nama pantai itu. Aku semakin tidak sabar untuk segera sampai ke Desa Sawarna dan melihat perubahan apa yang terjadi disana setelah dua tahun ini.

Begitu sampai di Desa Sawarna, ternyata perubahan besar juga terjadi disini, desa Sawarna yang tersembunyi itu kini sudah ramai, banyak dikunjungi para wisatawan. Sekarang sudah terpampang spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Wisata Desa Sawarna”, lihat betapa Desa Sawarna sudah benar-benar menjadi Kawasan Wisata. 

Saat memasuki Kawasan Wisata Desa Sawarna, keadaan disana sudah tidak aku kenali lagi, jalan desanya sungguh-sungguh berbeda dari dua tahun lalu aku kesini. Sekarang sudah banyak rumah-rumah yang dibangun, dan kebanyakan adalah rumah penginapan untuk wisatawan, mulai dari yang fasilitasnya lengkap sampai yang sederhana, kelihatannya penuh semua. Dengan masih tercengang, kami sampai di Homestay Widi, dan ternyata ada beberapa perubahan juga di sini. Sekarang Homestay Widi sudah dibangun tujuh bangunan baru dan ditambahkan semacam kantin, tetapi kali ini kami tidak menginap di Homestay Widi, karena semua kamarnya sudah penuh oleh turis yang menginap, jadi kami menginap di rumah Om Heri (masih saudara dari Om Adam dan Om Ade).


Akhirnya sampailah kami ke Pantai Sawarna, keadaan juga sudah berbeda disini, sekarang sudah banyak berdiri warung-warung di pinggir pantai yang menjual makanan, dua tahun lalu belum ada. Sungguh puas rasanya bisa menyaksikan perubahan dari desa Sawarna, sekarangpun banyak penduduk desa Sawarna yang beralih profesi, jika dulu mayoritasnya adalah nelayan, petani, dan tukang kayu, maka sekarang banyak penduduk yang membuka usaha, seperti warung, rumah tinggal untuk turis, lahan parkir, jasa antar-jemput ke bandara, dan lain-lain yang berorientasi pada bidang pariwisata. Wow!

Pantai Sawarna sudah ramai
Dari cerita Om Ade, penduduk disini juga sudah mulai bisa menguasai Bahasa Inggris sedikit demi sedikit karena usaha mereka bersentuhan langsung dengan turis asing. Bisa dilihat, aspek pendidikan sangat penting disini, mengingat kelanjutan pembangunan untuk kemajuan daerah, pembelajaran yang efektif wajib didapat oleh para generasi muda disini agar tidak canggung dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat berguna untuk menghadapi tantangan dunia pariwisata modern. Dengan XL Edu Solutions yang bekerjasama dengan sekolah-sekolah disini, usaha memajukan negeri bersama XL pun akan semakin mudah dicapai, XL Memajukan Negeri.

Usaha warung di pinggir pantai, bersentuhan langsung dengan para turis
Benar-benar sebuah kemajuan yang nyata yang bisa aku saksikan sendiri, semuanya berawal dari komunikasi dan sinyal yang baik. Lewat komunikasi, semua orang berpeluang untuk maju, benar adanya, komunikasi adalah obat mujarab untuk segala hal, dan untuk semua orang, begitu pula untuk penduduk Desa Sawarna. Dan lewat komunikasi lancar dan berkualitas yang dihadirkan oleh XL, apalagi dengan 30.000 BTS-nya yang menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia, XL Memajukan Negeri , sebagaimana XL turut memajukan surga selatan yang (dulu) tersembunyi.

Ditulis oleh Ramy Dhia
Seorang mahasiswa arsitektur yang mencintai dunia desain, teknologi, pop culture, dan penulisan. Ngeblog sejak 2010 dan mulai ngeVlog di Youtube sejak 2014. Hobi nonton TV Series dan merupakan pemain abadi dari game Harvest Moon: Back to Nature.
NB: Bercita-cita ingin menguasai dunia.


You Might Also Like

25 komentar

  1. Ajibbbb.. pantainya kerennnn *_*
    pengen kesanaaa.. ah, aku pake XL juga, emang bener, jaringannya bagus :D

    Sukses lombanya ya :)

    BalasHapus
  2. @tammizious
    hehe harus kesini deh, bagus banget..
    iya aku juga pake XL, terimakasih :D

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. wo keren ada turis asing nya juga.
    bule aja tau pantai sawarna . masa kita engga ? :D

    BalasHapus
  5. wooww kereen pantainyaa.. smoga menang yaa :D

    BalasHapus
  6. @dian novita
    iya keren banget :D
    makasih :D

    BalasHapus
  7. wow sunset asli emang lebih keren lebih lebih dari yang di depan rumah gua jadi pengen ngerasain ngeliat sunset dari pantai *ketauan deh blom pernah liatnya* xD
    jadi bule enak yah kerjaannya wisata mulu & surfing , kalo gua miris disini surfingnya cuma bisa di dunia maya -_-

    BalasHapus
  8. @Bahrumsyah Bila Sahil
    iya Hil, keren sunsetnya.. lu mesti liat sebagai pecinta sunset :D

    kata Om Ade sih, bule-bule itu sekalinya liburan ke yang jauh-jauh dan lama pulangnya, soalnya sebelumnya udah capek kerja, jadi refreshing gitu :D

    BalasHapus
  9. @Ramy masalahnya tuh gada yang gua ajak buat liat, bapak gua super sibuk mana ada waktu buat jalan keluarga *miris . kalo temen jarang yang ngajak ke pantai *tambah curhat

    kalo gua udah capek capek belajar refreshingnya gak jauh-jauh amat , gak adil nih . udah gitu duit pelajar mah seuprit, ngumpulin buat keluar negeri gak bakal cukup walaupun sampe lulus

    BalasHapus
  10. mau kesana ga pernah ke sampean :((
    kesana yuk kapan kapan :3
    baru sebatas baca di buku pariwisata gitu deh, enpi deeeeh :'(

    BalasHapus
  11. Wow,,, keren,, alternatif pulau BALi nih
    turis asing udah nyampe sini bang?

    BalasHapus
  12. aaaa Pantai sawarnaaaa
    tiap tahun aku kesana lho Ram.. *mudik
    aku juga pake XL :p *ga nanya juga gapapa haha
    Goodluck Ramy! cemungudh :D

    BalasHapus
  13. @Bahrumsyah Bila Sahil
    hahaha sedih amat, kalo dari Tangerang ngeteng bawa 300 ribu juga bisa Hil, kalo mau tuh ajakin temen-temen lu :D

    BalasHapus
  14. @Reza Kurniawan
    yuk kesana yuk, gak bakal nyesel deh :D

    BalasHapus
  15. @8ball
    yup, alternatif Bali, soalnya Bali udah mahal dan jauh.. XD
    iya banyak turis asing pada surfing disini :D

    BalasHapus
  16. @Adisti Riana Putri
    tiap tahun? woooh enak banget *,*
    haha kalo gak pake XL pasti pas mudik gak dapet sinyal tuh :p
    makasih :D

    BalasHapus
  17. Pantai ,,, angin sepoi-sepoi ,,, #kemudiantidur

    #teamsalahfokus

    BalasHapus
  18. kayaknya peernah baca artikel yg mirip dmn yah? :D

    BalasHapus
  19. @jay boana
    artikel ane sendiri juga kali, kan di blog ini ada 3 postingan yang bahas pantai Sawarna XD

    BalasHapus
  20. @Tapi keramaiannya masih kalah sama bali ya bang,, Ramy

    BalasHapus
  21. @8ball
    justru itu bagusnya, masih sepi jadi puas mainnya :D

    BalasHapus
  22. @Ramy
    ngeteng 300rb? sekarang aja gua gapunya duit segitu ._. ga usah yang jauhjauh dulu deh gua liat sunsetnya, mulai dari yang deket aja

    BalasHapus
  23. @Bahrumsyah Bila Sahil
    300 ribu sama nginep maksudnya..
    Haha yaudah

    BalasHapus

Harap komentar dengan bahasa yang sopan ya, as your grandma will read it :)

Page Ranking Tool
DMCA.com

I'm in

postimage
Mutsurini Team
Komunitas Online Kab.Tangerang Warung Blogger